Transformasi Industri Konstruksi Global, Universitas Narotama Siapkan Kompetensi Teknik Sipil Berbasis Teknologi dan Multidisiplin
01 Oktober 2026, 15:36:47 Dilihat: 20x
Fakultas Teknik Universitas Narotama mendorong penguatan pendidikan teknik sipil yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri konstruksi global. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kuliah umum Pembukaan Pembelajaran Semester Gasal 2026/2027 Program Studi Sarjana dan Magister Teknik Sipil Universitas Narotama yang menghadirkan Rektor Universitas Narotama, Associate Prof. Dr. Arasy Alimudin, S.E., M.M., sebagai salah satu narasumber.
Dalam kuliah umum yang dilaksanakan pada 25 September 2026 tersebut, Associate Prof. Dr. Arasy menyampaikan materi mengenai strategi pengembangan pendidikan tinggi dalam memenuhi kebutuhan industri konstruksi global. Menurutnya, perkembangan industri konstruksi saat ini telah mengarah pada penerapan konstruksi yang smart dan sustainable.
Perubahan tersebut mendorong industri konstruksi untuk semakin memanfaatkan kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sekaligus memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.
Ia menambahkan, perkembangan tersebut juga berkaitan dengan tuntutan terhadap industri konstruksi agar mampu membangun sistem yang lebih cerdas, ramah lingkungan, memperhatikan aspek environmental, serta memiliki daya saing dalam lingkungan bisnis global.
Associate Prof. Dr. Arasy menjelaskan bahwa periode 2026–2030 menjadi bagian penting dalam proses adaptasi industri konstruksi Indonesia terhadap perubahan lingkungan bisnis dan teknologi. Menurutnya, perubahan tersebut perlu direspons melalui pendidikan tinggi agar mahasiswa memiliki pemahaman mengenai perkembangan industri yang akan mereka hadapi.
Ia kemudian mengaitkan perkembangan tersebut dengan pengalaman Universitas Narotama dalam menjalin kerja sama pendidikan dengan Taiwan. Menurutnya, sejumlah praktik dan perkembangan teknologi konstruksi yang telah diterapkan di Taiwan menjadi salah satu referensi dalam pengembangan pendidikan di Universitas Narotama.
Universitas Narotama, lanjutnya, telah melakukan sejumlah penyesuaian kurikulum yang berkaitan dengan digital construction dan Artificial Intelligence di bidang konstruksi. Selain itu, Universitas Narotama juga telah membangun laboratorium Building Information Modeling (BIM).
BIM menjadi salah satu teknologi yang digunakan untuk mendukung proses perencanaan dan pemodelan konstruksi secara digital. Melalui pemanfaatan teknologi tersebut, proses desain, perhitungan spesifikasi, hingga simulasi terhadap kondisi tertentu dapat dilakukan sejak tahap perencanaan.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi tersebut dapat membantu mempercepat proses pembuatan desain dan perhitungan spesifikasi, sekaligus memungkinkan dilakukan simulasi terhadap berbagai kondisi yang mungkin terjadi pada suatu konstruksi, termasuk dalam menghadapi potensi bencana.
Selain aspek digitalisasi, green construction juga menjadi bagian penting dalam pengembangan industri konstruksi. Universitas Narotama mendorong peningkatan kompetensi dosen Fakultas Teknik melalui sertifikasi di bidang green construction sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik sesuai perkembangan industri.
Dalam kuliah umum tersebut, Associate Prof. Dr. Arasy juga menekankan adanya perubahan paradigma dalam pengelolaan bisnis konstruksi. Menurutnya, pelaku industri tidak dapat lagi hanya berorientasi pada pola konvensional, yaitu mengikuti tender, melaksanakan pembangunan, kemudian melakukan serah terima pekerjaan.
Perencanaan yang matang perlu dilakukan bahkan sebelum proses tender. Desain harus dipastikan telah melalui proses perhitungan dan simulasi sehingga berbagai kemungkinan risiko dapat diidentifikasi sejak awal.
Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan bencana, tetapi juga dapat mencakup perubahan kondisi ekonomi global, dinamika geopolitik, kebutuhan sumber daya manusia, waktu penyelesaian proyek, hingga kondisi keuangan.
Pemanfaatan teknologi digital dan AI, menurutnya, dapat membantu proses perhitungan dan pemetaan risiko tersebut. Dengan demikian, pelaku konstruksi dapat memperhitungkan kemungkinan perubahan harga material, efisiensi, kebutuhan tenaga kerja, serta waktu penyelesaian proyek secara lebih terukur.
Perubahan paradigma tersebut juga berkaitan dengan cara melihat penawaran dalam proses tender. Menurut Associate Prof. Dr. Arasy, aspek kewajaran model bisnis, anggaran, efisiensi, serta kesesuaian antara biaya dan keluaran yang dihasilkan menjadi bagian penting dalam perencanaan proyek.
Perkembangan industri konstruksi juga menunjukkan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup. Mahasiswa perlu memiliki pemahaman terhadap aspek manajemen, keuangan, sumber daya manusia, hingga hukum yang berkaitan dengan konstruksi.
Associate Prof. Dr. Arasy menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin menjadi penting agar mahasiswa memiliki perspektif yang lebih luas dalam memahami persoalan konstruksi.
“Sekarang memang kita harus memahami segala sesuatu secara komprehensif, sehingga multidisiplin ilmu itu wajib diberikan kepada mahasiswa supaya mereka bisa memiliki sudut pandang yang lebih komprehensif dengan perspektif yang lebih luas,” ungkapnya.
Menurutnya, pembelajaran di Universitas Narotama memungkinkan mahasiswa memperoleh perspektif dari berbagai bidang keilmuan. Dosen tidak hanya berasal dari bidang teknik, tetapi juga dapat berasal dari bidang manajemen maupun hukum.
Associate Prof. Dr. Arasy sendiri turut mengajar bidang strategi manajemen untuk konstruksi, sementara dosen bidang hukum juga dapat memberikan pembelajaran mengenai hukum konstruksi.
Pendekatan tersebut membuka peluang sinergi antara mahasiswa Magister Teknik Sipil dengan bidang keilmuan lainnya, termasuk kenotariatan, khususnya dalam memahami aspek dokumentasi, keuangan, dan hukum yang berkaitan dengan kegiatan konstruksi.
Pengembangan pendidikan teknik sipil di Universitas Narotama juga diperkuat melalui kerja sama dengan Taiwan. Associate Prof. Dr. Arasy menyampaikan bahwa kerja sama tersebut menjadi sarana untuk mempelajari perkembangan konstruksi dan manajemen konstruksi yang diterapkan di Taiwan.
Menurutnya, pembelajaran tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari desain, mitigasi risiko, tanggung jawab, pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, hingga pengelolaan waktu.
“Dosen-dosen Universitas Narotama juga ada yang mengajar di sana dengan adanya program kerja sama double degree itu, sehingga mereka juga sudah memiliki paradigma dan real evidence tentang konstruksi di Taiwan seperti apa,” jelasnya.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat dibawa kembali ke lingkungan akademik Universitas Narotama dan dibagikan kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran.
Selain aspek akademik, Associate Prof. Dr. Arasy menyampaikan bahwa skema kerja sama dengan Taiwan juga mencakup pengalaman kerja setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Dalam skema tersebut, mahasiswa yang mengikuti program diwajibkan menjalani pengalaman kerja selama dua tahun di Taiwan.
Menurutnya, pengalaman profesional tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi lulusan sehingga tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman nyata dalam lingkungan kerja konstruksi.
Kuliah umum tersebut diikuti mahasiswa Program Magister Teknik Sipil dan terbuka pula bagi mahasiswa Program Sarjana (S1) Teknik Sipil yang ingin mengikuti acara tersebut.
Associate Prof.Dr. Arasy menyampaikan bahwa mahasiswa memberikan respons positif karena materi yang disampaikan memiliki keterkaitan dengan kebutuhan profesional mereka.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa Magister Teknik Sipil yang mengikuti kegiatan tersebut sebagian besar telah memiliki pengalaman di bidang konstruksi. Karena itu, pemahaman mengenai perubahan paradigma industri menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi mereka.
“Kampus itu bisa hadir sebagai pemberi informasi, sebagai knowledge sharing, supaya mereka juga aware terhadap perubahan-perubahan yang ada dan aware terhadap masa depan daripada bidang yang mereka geluti,” tuturnya.
Melalui kuliah umum tersebut, Associate Prof.Dr. Arasy menegaskan pentingnya pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta perubahan lingkungan bisnis konstruksi.
Penguatan kompetensi melalui BIM, Artificial Intelligence, digital construction, green construction, manajemen risiko, serta pendekatan multidisiplin menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan industri konstruksi yang semakin kompleks dan terintegrasi.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Universitas Narotama dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, pengalaman profesional, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan kebutuhan industri di tingkat nasional maupun global.